
Zakumi, Maskot Resmi Piala Dunia 2010
Afrika Selatan
Selama 40 tahun, tiap perhelatan Piala Dunia selalu memiliki maskot yang unik. Kali ini, Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan juga mempunyai maskot istimewa dengan latar belakang sejarah Afrika Selatan.
Perkenalkan, inilah Zakumi si macan tutul yang lahir pada 16 Juni 1994, tanggal dan tahun itu adalah momen bersejarah bagi Afrika Selatan.
Tanggal 16 Juni 1976 merupakan awal pemberontakan kaum muda Soweto di Afrika Selatan. Pada tanggal itu, anak-anak sekolah di Afrika Selatan turun ke jalan untuk memprotes apartheid (sistem pemisahan ras antara kulit putih dan kulit hitam yang saat itu diberlakukan oleh pemerintah Afrika Selatan).
Banyak di antara anak-anak sekolah tersebut yang kemudian menjadi korban karena diberondong senapan polisi.
Sementara itu, tahun 1994 merupakan tahun ketika warga negara Afrika Selatan dari segala ras, baik kulit putih maupun kulit hitam, memberikan suara mereka untuk pertama kalinya dalam pemilu demokratis pemerintahan post-apartheid. Oleh karena itu, tanggal 16 Juni dan tahun 1994 dipandang sebagai simbol perubahan besar di Afrika Selatan.
“Pesta akbar Piala Dunia digelar di Afrika Selatan pada tahun 2010, tepat 16 tahun sejak Afrika Selatan meraih demokrasi,” ujar Danny Jordaan, Direktur Eksekutif Panitia Pelaksana Lokal Piala Dunia 2010.
Dengan kata lain, Zakumi merupakan duta besar dari seluruh harapan, mimpi, dan aspirasi rakyat Afrika Selatan. Lantas, seperti apakah Zakumi? Zakumi ialah macan tutul jantan dengan rambut gimbal berwarna hijau.
Ia memiliki senyum yang lebar. Zakumi adalah macan tutul yang penuh semangat, vitalitas, senang bersosialisasi, percaya diri, ambisius, dan tentunya menyukai sepak bola. Itulah gambaran dari Zakumi – maskot resmi Piala Dunia 2010.
Slogan Zakumi ialah ‘Zakumi: the mascot with an attitude’ (Zakumi: maskot beretika). FIFA mendeskripsikan karakter Zakumi sebagai macan yang lincah, ramah, petualang, dan spontan. Singkatnya, Zakumi adalah sosok kawan yang cerdas.
Satu lagi, Zakumi mempunyai kecenderungan untuk membesar-besarkan sesuatu. “Dengan kehangatannya, Zakumi merupakan simbolisasi Afrika Selatan dan keseluruhan benua Afrika,” jelas FIFA di situsnya.
Zakumi selalu membawa bola, sebagai tanda kecintaannya pada sepak bola. Ia juga selalu mengundang orang untuk bermain bola dengannya. FIFA menyatakan, prioritas Zakumi adalah untuk menjadikan ajang Piala Dunia 2010 sebagai satu pesta besar berskala internasional yang menyenangkan dan tak terlupakan.
“Zakumi ingin menciptakan suasana yang menggairahkan untuk para fans di Piala Dunia 2010 yang pertama kali digelar di tanah Afrika,” ujar legenda sepak bola Afrika Selatan, Lucas Rabede, yang mengaku sebagai kawan dekat Zakumi.
“Zakumi sangat bangga dengan Afrika Selatan, dan ingin meyakinkan dunia untuk datang bersama dan bersatu di Afrika Selatan,” imbuh Rabede.
Desain fisik dan rancangan kostum Zakumi diproduksi secara eksklusif di Afrika Selatan. Awalnya, sejumlah perusahaan Afrika Selatan diminta untuk mendesain maskot Piala Dunia 2010 yang bisa mewakili Afrika Selatan dan seluruh Afrika sebagai satu kesatuan. Maskot tersebut harus mudah dikenali dan meninggalkan kesan mendalam.
Setelah melalui proses eliminasi bertahap, FIFA akhirnya memutuskan untuk menggunakan desain milik perancang Cape Town, Andries Odendaal. Kostum Zakumi sendiri diproduksi oleh Cora’s Costume di Boksburg, sebelah timur Johannesburg.
Cora’s Costume merupakan perusahaan milik Cora Simpson yang telah 22 tahun malang-melintang di bidang pembuatan kostum. Cora’s Costume jugalah yang merancang desain terkenal untuk figur kartun asal Amerika Serikat seperti Bugs Bunny dan burung Tweety.
Pria di balik proses kreatif Zakumi adalah David Mbewe. Ia telah bekerja dengan Cora’s Costume selama 20 tahun. Setelah meneliti dan memilih campuran kain dan warna yang tepat, ia dan para asistennya lantas merancang kostum Zakumi. “Bukan pekerjaan yang mudah,” kata Cora Simpson.@Jekethek

Aremania yang tampak memadati kawasan Stadion Kanjuruhan
Laporan hari ini konvoi aremania - aremanita membanjiri sepanjang jalanan kota Malang terlihat membiru. Itu karena para Aremania masih merayakan kesuksesan Arema Indonesia menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2009-2010, dalam sebuah rangkaian Pesta Rakyat Arema Indonesia, Rabu (2/6). Meskipun konvoi kemarin itu sendiri merupakan konvoi hari ketujuh yang dilakukan Aremania.Tak heran kalau konvoi Aremania panjangnya mencapai puluhan kilometer, sehingga dari ujung hingga buntut kalau dimeniti mencapai 1,5 jam. Pasalnya, Aremania khususnya dan warga pada umumnya, memang sangat bersuka cita dengan kesuksesan tim kebanggaan tersebut. Kemeriahan pesta rakyat Arema Indonesia kemarin itu pun lantas dipungkasi dengan atraksi kembang api yang dipersembahkan Malang Post (grup JPNN).
Oleh karena banyaknya Aremania yang meluber ke jalanan, panitia pun sampai terpaksa memangkas rute konvoi. Awalnya, arak-arakan pemain direncanakan juga melewati Kota Batu. Namun karena adanya kemacetan, konvoi akhirnya hanya mengitari etape pertama dan langsung kembali ke Kota Malang.
Konvoi itu sendiri dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, serta baru selesai pada pukul 16.00 WIB dengan rute yang dipersingkat. Sesaat sebelum konvoi, Aremania sendiri telah meluber di Kota Malang, terutama di sekitar Jalan Semeru, Stadion Gajayana, Malang. Para pemain kemudian dinaikkan ke mobil bak terbuka. Konvoi berjalan sesuai rute yang direncanakan, meski harus bersusah payah menembus kerumunan Aremania.
Sambutan dari masyarakat Kota Malang dan Kabupaten Malang pun begitu luar biasa. Mereka telah menunggu di pinggir jalan, untuk menunggu rombongan pemain dan ofisial Arema lewat. Lantas di belakang konvoi pemain dan ofisial itu, puluhan ribu Aremania pun berarak-arakan dengan atribut kebesarannya.
"Kamu sampai mana? Ini di Tugu, buntutnya konvoi belum lewat-lewat juga," ujar seorang jurnalis yang menelepon Malang Post dari Kota Malang. Malang Post memang sengaja mengikuti konvoi itu, satu mobil dengan M Ridhuan dan Hermawan. Kedua pemain tersebut menaiki mobil bersama ofisial lainnya.
"Wah, ini luar biasa sekali. Saya di Singapura enggak akan menemui seperti ini," ungkap Ridhuan dengan dialek Melayu yang kental.
Sepanjang perjalanan, Ridhuan pun terus dielu-elukan oleh Aremania dan Aremanita yang ikut konvoi, maupun yang menunggu di pinggir jalan. Sedangkan nama Hermawan, baru dipanggil Aremania dan Aremanita ketika konvoi melewati Pakisaji. Maklum, itu adalah tempat kelahiran defender Arema tersebut. "Wah kalau camat bisa dipilih langsung, saya akan mencalonkan diri," guraunya.
Menariknya, beberapa kali orang-orang di pinggir jalan salah panggil terhadap Hermawan. Karena berada di samping Ridhuan, sejumlah orang mengira dia adalah Noh Alam Shah. Namun, meski dipanggil dengan nama Alam, Hermawan tetap saja membalas dengan melambaikan tangan.

M Ridhuan dan Hermawan, dua bintang Arema saat konvoi kemarin
Keruwetan konvoi mulai terjadi ketika masuk di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Di sana arak-arakan nyaris tak bisa bergerak. Hal serupa juga terjadi di Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, yang macet sekitar satu jam. Pemain sampai memanfaatkan kemacetan itu dengan makan nasi bungkus."Bagi saya ini luar biasa, meski macet. Ini pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan," ungkap Esteban, salah seorang pemain asing Arema.
Karena macet pula, beberapa rombongan pemain bahkan harus sempat terpisah. Pierre Njanka dan Noh Alam Shah misalnya, bisa sampai finis di Stasiun Kota Baru. Namun, kedua pemain itu akhirnya bisa sampai di tempat finis konvoi, di depan kantor redaksi Malang Post, setelah harus berganti kendaraan. Keduanya naik sepeda motor milik Aremania untuk menembus macetnya konvoi. Sementara rombongan pemain lainnya, terpaksa berbelok ke arah mess pemain. Itu dikarenakan jalanan menuju stasiun sudah penuh sesak dan tak bisa dilewati lagi.
Malam harinya, pesta seharian itu ditutup dengan kembang api, yang sengaja diluncurkan dari kantor redaksi Malang Post. Tak kurang dari 15 menit, aneka warna kembang api pun terlihat meriah bercahaya, mewarnai langit Kota Malang yang dipenuhi khalayak yang bersukacita.@JPNN

